Skip ke Konten

Angan

Tatkala memandang sepotong rekaman sosok menyajikan maupun mengumbar perihal angan pada hari kelak, aku menangkap perkara tak lazim.


Tidak, tiada lantaran aku menduga dirinya takkan sekalipun sampai pada angan tersebut. Aku semata membatin alangkah mujur dirinya yang mengerti pun megah perihal apa yang didambakan.


Engkau tahu, perkara yang mampu menumbuhkan aku dengki ialah terhadap sosok yang sanggup berangan pun tiada gentar guna mengangankan.


Aku sempat pula terhenti berangan, menyangka bahwasanya aku tiada akan sanggup menjulang serta aku yang diliputi ciut ini akan mencapai angan.


Aku sempat pula terhenti berangan, tiada merenungkan kelak menjelma serta semata mengada menuruti gelombang yang tercipta.


Akan tetapi angan, ah angan.


Perkara elok aku khayalkan semata angan. Tiada sekat guna berangan.


Aku tahu, aku tak sekalipun terhenti berangan. Bila iya, semata ujar terucap melalui lisan. Kalbu aku tak sekalipun mengizinkan dirinya berlalu. Aku paham bahwasanya aku sekadar menutupi asaku, bukanlah merelakannya lenyap.


Aku dengki, bukanlah pada sosok perangan, namun terhadap sosok teguh menyuarakan impian.


Perkara aku imani, satu masa kelak asaku lantang guna mengungkapkan jati diri. Aku percayai asaku sanggup berkilau pun menjulang laksana munajat yang bernyawa diam-diam.


A Simple Soul, Angan. 

di dalam Puisi
Masuk untuk meninggalkan komentar
Ada