Skip ke Konten

A mosaic of everyone I've ever loved, ✾.

Aku tengah membayang dan menatap ke arah matahari yang akan tenggelam, di mana hanya ada suara ombak yang terdengar.

Apa matahari enggak pernah merasakan kesendirian?” celetuk perempuan yang berantah datang dari mana.

Aku celingukan melihat orang yang datang bersamanya, namun nihil. Tempat ini bak pantai mati yang tak berpenghuni. Saat ini, kita berdua layaknya 2 orang terdampar di pantai yang terpencil.

Oi, jawab.” Dirinya menyenggol bahuku pelan dengan tangannya.

Aku menatapnya sengit, melihat matanya yang menatap mataku juga. Jika ini menjadi kontes siapa yang dapat menatap lebih lama, aku tidak akan mundur. Akan ku tunggu hingga 5 detik, 7 menit, 2 j-

“Yaudah kalo enggak mau jawab,” potong dirinya saat kita sudah saling menatap selama 4 detik.

Entah apa tujuan dirinya dikirim ke sini, aku hendak pergi meninggalkannya.

“Aku pernah ditanya pertanyaan yang sama, terus aku pikir ngapain coba nanya kaya gitu. Orang dia aja enggak punya perasaan, cuman benda mati. Apasih, kenapa orang-orang mikir suka kejauhan.” Dirinya berkata demikian keheranan.

“Gak jelas,” balasku.

“Ya kan? Seumur hidup, baru sekarang aku ditan-”

“Kamu yang enggak jelas.”

Dirinya menatapku, mengernyitkan alis tak terima. Memang bisa diakui bahwasanya pertanyaan itu sama-sama tidak jelasnya. Namun bukankah dirinya lebih tidak jelas karena masih juga memikirkan hal tidak jelas itu?

“Main kamu kurang jauh,” singgung dirinya.

Tunggu-tunggu, tidakkah pernyataan ini terlalu personal. Tidak, aku tidak tersinggung. Dirinya mana tahu sejauh apa aku sudah bermain, jangan pula kalian menyangka aku tidak tahu main yang dia maksud.

“Kamu mau tau kan, kalo sebenarnya matahari enggak pernah sendiri.

Entah datang dari mana suara yang didengar dirinya, padahal aku tidak pernah menjawab keingin tahuanku mengenai hal itu.

“Ini bukan khayalanku, semua orang juga tahu mereka enggak pernah sendirian. Kalo planet-planet itu suka ngelilingin matahari, bahkan tanpa matahari planet-planet enggak bisa ada kaya sekarang. Mungkin bukan orang yang mikir kejauhan, tapi aku yang mikirnya kedeketan. Aku enggak pernah tahu, bagaimana dari pertanyaan ‘Apakah matahari merasa sendirian?’ punya makna yang lebih dalam.” Dirinya berhenti dan menatapku sejenak.

“Kamu kepikiran ga? Kalo sekarang matahari itu sebenarnya kita. Aku pikir kalo misalnya aku sekarang ga ada, mungkin orang-orang sekitar aku enggak akan ‘ada’ kaya adanya mereka sekarang. ‘A mosaic of everyone I've ever loved’, bahwasanya kita semua sekarang disusun dari orang-orang yang pernah kita temui. Ada yang baik, ada juga yang enggak baik. Tapi dari mana kita kenal yang baik, kalo kita aja enggak tahu mana yang enggak baik. Aku pikir kadang hidup enggak sependek atau sesimpel yang kita kira. Kadang ada hal yang perlu, atau emang kalo kita pikirin lebih jauh, lebih kelihatan maksudnya.”


A Simple Soul, A mosaic of everyone I've ever loved. 

di dalam Prosa
Masuk untuk meninggalkan komentar
Cermin