Skip to Content

Elu, ✾.

Bukankah aku belum mengenalkan diriku.

Prolog kemarin aku ceritakan dengan pembukaan yang tidak biasa.

“Hai, perkenalkan namaku Elu.”

Apakah namaku mempunyai arti, tentu saja.

Tapi apakah aku ingin memberi tahu arti namaku? tentu saja, tidak. Sedekat apa hingga aku harus memberi tahu arti nama yang menjadi identitasku. Jika kalian masih terus bertanya mengenai hal itu, kalian sama saja seperti perempuan tidak jelas kemarin.

Hei, kalian pikir aku senang dengan cerocosan dirinya yang tiba-tiba? Kesendirian, baik, jahat, mosaic? Aku jadi kesal ketika kembali memikirkannya.

Jika banyak yang bertanya mengenai kelanjutan hari kemarin, aku langsung meninggalkan dirinya. Tidak peduli bagaimana pandangan dirinya terhadap aku, toh kita tidak akan lagi bertemu.

Dan hari ini adalah hari kepulangan, liburanku telah usai.

Menggunakan kereta yang ada di tengah kota, memilih tempat yang sejejer dengan jendela.

Aku berdoa, perjalanan hari ini sempurna.

“Mengantuk, aku ingin tidur saja.” Gumam aku.

Alasanku memilih tempat duduk dekat jendela, bukan karna ingin melihat keindahaan alam yang dilewatinya. Aku ingin bisa nyaman bersandar, tanpa terganggu oleh orang-orang yang berlalu-lalang.

“Oi!”

Tidak, aku mohon dengan sangat, jangan.

Dari beribu-ribu orang di kota, masa harus aku lagi yang menderita. Perjalan di kereta akan menjadi eksperimen bak neraka. Aku sangat tidak amat berminat untuk membuka netra yang tertutup oleh kantung mata. 

“Oi, kantongnya oi, jangan pura-pura tidur!”

Aku mengintip sedikit kepada dirinya. Melirik dari ujung kaki hingga ujung kepala, perawakannya berbeda. Memang dari suara sudah tidak sama. Tapi “Oi” aku sudah menebak ketidakjelasan akan perjalanan kita.

“Maaf.” aku ucapkan pelan.

“Loe jangan begitu ya lain kali. Kalo bukan gue orangnya bisa jadi ilang tuh kantong.”

Aku mengangguk sembari tersenyum tipis. Memang ada benarnya juga yang dikatakan dirinya. Tapi, apakah menjadi salahku jika kantongku hilang? Bukannya tetap saja itu akan menjadi salah si pencuri barang. Cih, orang-orang memang seenaknya menilai.

“Nama gue Zin, salken ya.” dirinya menyodorkan tangan tepat di depan muka. 

“Salam kenal juga.”

“Dih, cuek bet.” ketus dirinya sembari menarik tangan yang hanya berjabat dengan angin.

Bukankah benar apa yang aku kata. Perjalanan ini akan menjadi semrawut. Aku hanya melindungi diriku dari orang yang tidak aku kenal. Tidak melihat kah bahwasanya aku ini tidak akan tertarik dengan dirinya. 

“Oi, gue mau kenalan biar loe sama gue nyaman di sini. Kita bakal duduk kaya gini 5 jam. Emang loe nyaman duduk 5 jam sama orang asing? Jujur gue enggak sih. Gue ajak loe kenalan biar 5 jam kita ini, jadi 5 jam bareng temen. Bukan bareng orang asing. Etdah, niat baik gue malah dipikirin yang enggak-enggak.” dirinya berkata demikian dengan sangat tiba-tiba.

“Gue gatau juga mungkin emang loe ga nyaman karena tiba-tiba diajak kenalan sama orang asing kaya gue ini. Atau loe takut buat kenalan atau—.”

“Maaf, nama aku Elu.” potong aku cepat.

Bukan, bukan aku berubah pikiran dan berbalik menjadi orang ramah yang akan membuat hubungan pertemanan, hanya saja sudah aku bayangkan bahwasanya 5 jam diriku, bukan bersama teman, melainkan bersama ocehan, jika aku tidak membuat perkenalan. 


A Simple Soul, Elu. 


Sign in to leave a comment
A mosaic of everyone I've ever loved, ✾.